Pages

Follow Us

09 Desember 2018

No Caption Needed


Nah…akhirnya ada juga kesempatan untuk sekedar menulis di blog ini. 
 


Kali ini saya akan sedikit berbicara mengenai Input Oriented, kasarnya tuh orientasi uang/pemasukan. Hal ini yang biasanya membuat banyak orang memandang sebelah mata profesi abdi negara, seperti saya ini hehehehe.

Situasi Awal
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Kabupaten Mimika mulai aktif melayani awal tahun ini dan melekat pada struktur Dinas yaitu Dinas Penanaman Modal dan PTSP.
Berbekal ekspektasi tinggi masyarakat, sedikit ilmu, NOL pengalaman, serta NIAT Pengabdian yang tinggi, serta gaya cowboy nan berani, kami (saya dan teman-teman) memulai dengan penuh sukacita pelayanan kami.
Awal Pelayanan kami yang penuh kebingungan dalam menghadapi kendala dukungan anggaran yang sangat minim, tidak ada kendaraan operasional, personil yang malas (kurang semangat), serta ego sectoral beberapa instansi yang entah mengapa mati-matian tidak bergeming untuk bergerak bersama adalah pengalaman hidup yang cukup menakutkan untuk seseorang bangun tidur di pagi hari 😌

What? Yes…fakta bahwa setiap detik berharga untuk browsing aturan ini-itu, mulai dari UU, PP sampai dengan Perda dan turunannya. Memisahkan rumpun-rumpun perizinan, membuat rancangan perbub/sk dan lain-lain yang biasanya kurang dari satu hari (thanks to google), sambil menata semua perangkat dan personil untuk bekerja dalam satu harmoni merupakan hal yang sangat menguras energi.

Puji Tuhan dengan se-abrek hal-hal melelahkan diatas, Tuhan baik…sungguh baik memperlengkapi crew kami dengan orang-orang terbaik. Tidak semua sih, ada beberapa orang yang sama sekali tidak happy, enggan bekerja dan berpotensi merusak, namun Tuhan memberkati kami sehingga orang-orang tersebut langsung di ‘bebas-tugaskan’ dari tupoksi mereka. Artinya ada beberapa fungsi orang-orang ini yang kemudian harus dikerjakan personil yang lain demi kelancaran pelayanan kami.

My crew are my pride
Seperti yang saya tuliskan diawal, bahwa kami memulai Pelayanan kami dengan ekspektasi yang tinggi dari masyarakat. Sering ruangan saya menjadi tempat curhat para pelaku usaha, terutama usaha menengah kecil ke bawah. Dari yang keki, galau sampai bercucuran air mata pernah saya layani, sekedar untuk memberikan “a shoulder to cry on” sampai benar-benar fight cari solusi untuk permasalahan mereka.
Kadang-kadang kehadiran kami dari PTSP, ke instansi lain dianggap seperti “ada U di balik B’, pasti ada apa-apanya nih…rela sekali capek-capek kemana-mana untuk orang-orang ini. Padahal it’s simply our commitment, komitmen untuk melayani Sepenuh Hati.
Capek iya, kesal apalagi, lapar??? Don’t you dare to even ask hahahaha. Lapar dan haus itu sangat biasa bagi kami di awal pelayanan, dimana kami benar-benar sepertinya terpacu untuk idealis, untuk sekedar membuktikan bahwa ASN itu masih punya integritas.
Briefing pagi setiap hari kerja selalu saya bawa dengan berapi-api, sekalipun banyak kali saya sendiri tidak mempercayai apa yang saya katakan…itu hari-hari yang berat, melihat orang-orang hebat ini bekerja dengan loyalitas tinggi namun lapar. Padahal jika saja kami mau, banyak sekali yang bisa kami dapat dari segala penjuru. Namun kepalang tanggung dah, berani mendeklarasikan diri berintegritas artinya harus menanggung konsekuensi dari hal tersebut.

Lari Kencang Mati-mati Ayam
Pernah suatu pagi, kami dikejutkan dengan tingkah seorang teman yang tiba-tiba lari mengejar customer. Pas ditanya mengapa, katanya “mau kas kembali uang”.
Ceritanya bapak yang punya apotik ini benar-benar ikhlas dan sudah beberapa kali menawarkan uang untuk teman ini namun teman tetap menolak. Sehingga suatu waktu dating bapaknya bawa beberapa berkas, di paling akhir ada amplop jutaan rupiah…jutaan yang besar hehehe….yah ditolak juga oleh si mawar.
Waktu itu saya sempat keki sama teman ini dan langsung saya tanya, “mengapa ko kas kembali? Anggap saja ko baru lihat setelah orangnya pergi? Setidaknya tidak malu-maluin dan kita juga bisa makan siang”. Lalu dijawab, ‘loh, bukannya ibu sendiri yang tiap pagi suruh kita begitu?”….ya iya sih tapi kita kan lapar hehehe, ingin saya jawab demikian namun malu sendiri bahwa ternyata mereka lebih memegang prinsip dari pada saya sendiri. Jadi malu saya…….💆

Input Oriented
Yah seperti maksud bahasan diawal bahwa masih banyak dari kita (para Abdi Negara, Abdi Masyarakat) yag focus kepada input daripada result oriented. Terutama dalam melayani masyarakat, seringkali kita lupa bahwa kita ini pelayan, yang direkrut untuk melayani masyarakat.
Bahwa salah satu fungsi kita melakukan pelayanan public, seperti melayani perizinan adalah bentuk pengabdian kita bagi kemashalatan bersama.
Terkait dengan percepatan pembangunan dan perekonomian daerah, proses pelayanan yang cepat, terjangkau dan punya kepastian hukum akan mendatangkan investasi. Dimana ada investasi disitu ada modal, real capital yang bisa digunakan untuk memulihkan perekonomian daerah, menciptakan lapangan kerja dan kemudian mengurangi pengangguran.

Hal ini seharusnya lebih kita sadari, dimana di Kabupaten kita rata-rata ASN sudah punya gelar S2 bahkan S3 (saya belum, berat euy😁). Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, artinya tidak ada masalah di level SDM kita sehingga hanya tinggal mau atau tidak, kita bekerja dengan baik dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kita selaku abdi negara. 
Bekerja demi Kemuliaan Nama Tuhan, bekerja demi masa depan Kabupaten tercinta, apalagi setelah Freeport selesai nanti…kita harus siap, kita harus berbenah.

Wuyuh, ribet ya,,,,sorry for you all kalo you baca bahasan saya kali ini. Seperti biasa, gak nyambung tapi masuk akal, seperti “balap tapi pelan-pelan saja”😄😄😄😄😄

 Godbless 😍

Share this article now on :

Posting Komentar

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))